Napak Tilas Transportasi Indonesia [Part 3]


Kembali melanjutkan cerita di Museum Transportasi, kali ini saya bergerak masuk menuju ke bangunan utama. Bangunan Utama Museum Transportasi dibagi menjadi tiga. Dua bangunan di samping merupakan bangunan yang semi outdoor. Sedangkan bangunan utama yang berada ditengah merupakan bagunan full indoor yang dilengkapo dengan penyejuk udara. Awalnya saya ingin segera masuk ke bangunan utama yang di tengah, karena cuaca diluar sudah semakin terik. Namun Koleksi yang sekilas terlihat dari bagian luar menarik perhatian saya, jadi saya putuskan untuk ke bangunan utama bagian sisi terlebih dahulu. 

Lokomotif 10437

Untuk masuk ke bangunan nya terdapat tangga naik. Namun sebelum naik terdapat salah satu yang dipajang yaitu lokomotif uap 10437. Lokomotif ini dibuat oleh Henschel & Son, Jerman pada tahun 1911. Lokomotif ini ditugaskan untuk mengangkut tebu dari perkebunan ke Pabrik Gula Gempol, Jawa Barat. Lokomotif ini berdinas mulai tahun 1912 hingga 1995. Untuk mengangkut tebu, lokomotif ini dirangkaikan dengan lori pengangkut.  

Holden Torana

Setelah menaiki beberapa anak tangga saya disambut oleh koleksi museum yang merupakan sumbangan dari salah satu perusahaan transportasi terbesar di Indonesia, yakni Blue Bird. Terdapat 2 mobil taksi blue bird yang dipajang. Pertama ada unit reguler Blue Bird yang menggunakan produk Holden dengan tipe Torana. Holden sendiri merupakan pabrikan mobil yang berasal dari Australia Selatan, sebelumnya bernama General Motors-Holden yang merupakan anak perusahaan dari General-Motors. Kembali ke bahasan taksi Blue Bird, unit ini pertama kali beroperasi tahun 1972 dan menjadi salah satu dari 25 unit taksi Blue Bird yang pertama kali beroperasi. 

Nissan Cedric

Disebelahnya, terdapat mobil berwana hitam yang merupakan unit Silver Bird pertama di Indonesia. Silver Bird merupakan Taksi eksekutif yang memiliki segmen penumpang berbeda dari taksi reguler. Pertama kali mengaspal pada tahun 1993. Dan unit yang digunakan adalah Nissan Cedric. Pada tahun sebelumnya unit dan driver Silver Bird ini bertugas mengantarkan tamu negara dalam event KTT Non Blok dimana Indonesia menjadi tuan rumahnya.

Morris Traveller

Setelah puas melihat koleksi lawas taksi Blue Bird, saya kembali berjalan menyusuri area outdoor. Hingga akhirnya mata saya tertuju pada kendaraan yang sangat iconic karena tayang disalah satu serial tv swasta nasional. Ya kendaraan ini akrab disebut dengan 'Oplet' yang sering tampil di serial tv Si Doel Anak Sekolahan yang tayang di tahun 90an hingga 2000an awal. Oplet ini nampak memiliki kelir berbeda dari serialnya, yang mana berkelir biru gelap. Berbeda dengan yang ada di serial nya, berkelir biru langit yang sangat kontras dengan kelir sekitarnya yang berwarna hitam. Bagi yang belum tau, Oplet sendiri yang digunakan untuk menyebut kendaraan mini bus yang digunakan sebagai transportasi umum. Unit yang digunakan biasanya adalah Morris Traveller yang merupakan pabrikan asal Inggris. Kemudian dimodifikasi lagi sesuai dengan kebutuhan transportasi umum yang memiliki tempat duduk yang banyak.

Holden Torana

Kembali berjalan menyusuri area outdoor, saya kembali menemukan koleksi transportasi umum lawas. Kali ini dari dari 4848 group. Bagi saya terdengar sangat asing. Selain tidak eksis dijumpai seperti halnya perusahaan transportasi umum seperti Blue Bird, Damri, atau perusahaan transportasi besar lainnya. Di jaman saya kecil pun tidak pernah melihat bersewileran di jalanan-jalanan kota besar. Namun setelah saya melihat informasi yang tersaji, ternyata 4848 group ini merupakan salah satu pionir transportasi umum di Indonesia. Berdiri pada 4 Agustus 1959 di Kota Bandung. dan eksis mulai tahun 1960. Perusahaan ini menjadi pionir layanan jemput dan antar dari dan ke tujuan atau rumah atau yang lebih dikenal door to door service. Untuk koleksi yang dipamerkan di sini adalah Holden Premier, mirip dengan koleksi dari taksi Blue Bird sebelumnya.

Becak Motor (Bentor)

Bergeser ke sisi sebelahnya terdapat transportasi lawas yang memiliki bentuk sangat ikonik dan khas pada masanya, yaitu Becak Motor (Bentor) dan Bajaj. Bentor sendiri merupakan transportasi umum khas dari daerah Siantar, Sumatera Utara. Saya sendiri belum pernah naik sama sekali, namun cukup familiar karena cukup sering muncul di televisi. Bentor disini merupakan modifikasi dari pabrikan sepeda motor Itali, yaitu Piaggio dengan produk yang populer Vespa. Vespa tersebut dimodifikasi dengan tambahan kursi penumpang disampingnya, mirip motor Side-Badger namun ditambah atap permanen berbahan solid.

Bajaj

Di sisi bentor terdapat transportasi umum dengan bentuk yang ikonik, yaitu Bajaj. Bajaj merupakan kendaraan yang umum ditemui di Ibukota Jakarta. Berbeda dengan Bajaj masa kini yang sudah modern, Bajaj yang dipamerkan disini merupakan Bajaj generasi awal, menggunakan mesin yang mirip dengan vespa dan didatangkan dari India. Salah satu ciri khas bajaj lawas ini adalah mesinnya yang menghasilkan polusi asap yang cukup ngebul dan posisi tempat duduk penumpang sempit dan agak tinggi dibanding tempat duduk pengemudinya. 


Dari titik bentor dan bajaj dipamerkan, di area lebih luar lagi terlihat koleksi transportasi yang lebih besar lagi, yakni Bus lawas. Namun karena cuaca diluar terasa semakin panas, saya memutuskan untuk masuk terlebih dahulu ke bagian indoor. Saya bergegas menuju pintu utama di bagian depan. Di depan bangunan utama terdapat lampu mercusuar yang terdapat tulisan berbahasa belanda yang kira-kira memiliki arti "Di bawah Pemerintahan Raja Belanda Z.M. Willem III diatur untuk lampu kedua berukuran tetap 1879". Seperti apakah bagian indoor bangunan utama Museum Transportasi TMII? Koleksi apa saja yang ada disini? Cerita selanjutnya bisa kalian baca di bagian selanjutnya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Kebutuhan Sekunder yang Menjadi Kebutuhan Primer

Masalah Utama dunia Pendidikan di Indonesia

Etika Dalam menggunakan Internet (Netiket)