Napak Tilas Transportasi Indonesia [Part 2]



Meneruskan topik mengenai Sejarah Transportasi di Indonesia yang ada pada tulisan sebelumnya, kita lanjutkan perjalanan menuju Museum Transportasi TMII. Setelah membeli tiket masuk ke kawasan TMII saya berjalan hingga sampai di depan Museum Transportasi. Dari sini kita "disambut" beberapa koleksi yang di pajang di  halaman depan Museum. 

Tiket Masuk Museum Transportasi

Sebelum masuk ke dalam, kita wajib membeli tiket masuk di loket yang ada di gerbang Museum. Terdapat 2 jenis tiket, yakni tiket untuk museum saja dan tiket museum yang bundling dengan tiket kereta api keliling. Untuk membeli nya hanya bisa dilakukan secara on the spot dengan harga Rp 10.000 saja untuk tiket museum dan Rp 20.000 jika beli bundling dengan kereta keliling. Pembayaran bisa menggunakan tunai dan QRIS. 

Kereta Klinik QL-45

Setelah membeli tiket, saya berjalan masuk ke gerbang, kemudian tiket akan dicek oleh petugas yang berjaga. Segera saya bergegas menuju salah satu koleksi yang ada di halaman depan, yaitu kereta klinik. Kereta berwarna putih ini mulai berdinas dari tahun 1950 hingga selesai dinas ditahun 1970. Kereta yang memiliki kode QL-45 ini merupakan modifikasi kereta penumpang hasil kerjasama dari Djawatan Kereta Api dengan Kementrian Kesehatan.

Kereta Wakil Presiden IL 8

Tepat dibelakang Kereta Klinik, terdapat salah satu kereta yang memiliki sejarah penting bagi Bangsa Indonesia. Kereta dengan berkelir putih dan hijau ini adalah kereta Wakil Presiden dengan kode IL 8. Sebelum menceritakan sejarah penting apa yang terjadi bersama kereta ini, kita bergeser ke sisi lainnya, karena koleksi berikutnya juga berkaitan dengan sejarah kereta Wakil Presiden ini. 

Kereta Presiden IL 7

Di samping kereta IL 8, terdapat kereta IL 7 yang merupakan Kereta Presiden. Kereta IL 7 dan IL 8 ini dibuat secara bersamaan di Bandung pada tahun 1919 oleh  Perusahaan Kereta Api Kerajaan Belanda, StatsSpoorwegen. Pada masa pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, situasi Ibukota Jakarta menjadi kurang kondusif, terutama ketika tentara sekutu yang datang beserta pasukan Kerajaan Belanda yang 'membonceng' untuk melucuti senjata tentara Jepang yang telah kalah perang. Karena Kondisi seperti itulah Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta serta jajaran kabinet pemerintahan 'hijrah' ke Yogyakarta pada tahun 1946. Perjalanan menuju Yogyakarta ini dilakukan secara rahasia. 
Kisah perjalanan rahasia ini sangatlah epic, karena dilakukan secara hati-hati dan beberapa kali harus mengakali pasukan Belanda yang melakukan penjagaan ketat di Jakarta. Misalnya saat Kereta melaju di wilayah Jakarta, kereta melaju dengan kecepatan perlahan dan semua lampu gerbong dimatikan agar tidak dicurigai pasukan Belanda. Kemudian selepas Stasiun Jatinegara, kecepatan kereta dipacu lebih cepat hingga akhirnya sampai di Yogyakarta dengan selamat dan disambut oleh Sultan Hamengkubuwono IX dan Pakualam VIII.

Lokomotif DSM 28

Disamping rangkaian Kereta Presiden dan Wakil Presiden terdapat 1 lokomotif yang dirangkaikan. Lokomotif itu adalah DSM 28. Walaupun dirangkaikan dengan 2 Kereta istimewa tadi, ternyata lokomotif ini memiliki sejarah yang berbeda. Lokomotif dengan tipe B2 ini didatangkan oleh DSM (Deli Spoorweg Maatschappij) yang merupakan Perusahaan Kereta Api yang beroperasi di daerah Deli Serdang. Lokomotif didatangkan DSM dari perusahaan Jerman Hoohenzollern Locomotive Works. Lokomotif ini didatangkan pada tahun 1903 sebanyak 4 unit dengan nomor urut 26, 27, 28 dan 29. 

Peta Museum Transportasi

Selain Kereta Api yang dipajang di halaman depan, masih banyak lagi koleksi yang dimiliki oleh Museum Transportasi. Untungnya di halaman depan ini terdapat peta yang menampilkan bagian-bagian dari Museum Transportasi ini. Uniknya informasi yang ditampilkan dalam bentuk gambar, misal koleksi Kereta api yang terdapat di bagian depan dan belakang, maka di peta ditampilkan gambar lokomotif. Dengan melihat peta Museum Transportasi ini, saya jadi semakin mudah menentukan koleksi mana yang ingin saya lihat. 

Garuda Indonesia DC-9-32 PK GNT

Kembali bergerak lebih ke dalam, mata saya tertuju ke salah satu koleksi yang dipajang. Sepertinya koleksi ini merupakan koleksi yang paling besar yang dimiliki oleh Museum Transportasi. Koleksi yang saya maksud adalah Pesawat Garuda Indonesia DC 9. Pesawat yang memiliki kode DC-9-32 PK GNT ini selesai diproduksi pada tahun 1979 oleh pabrikan asal Amerika Serikat yakni McDonell Douglas Aircraft Company. Pesawat ini memiliki spesifikasi lebar sayap 28.5 m. tinggi 8.4 m dan panjang badan 36.4 m. Dan ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney Aircraft PWAJT*D-9A yang dapat dipacu hingga kecepatan 350 kts / 684 km/jam. Dengan spesifikasi tersebut, pesawat ini mampu mengangkut hingga 102 penumpang, 2 kru kokpit dan 4 kru kabin

Ekor Pesawat DC 9

Di Indonesia, awalnyapesawat ini dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan memiliki livery garis warna merah khas livery Garuda Indonesia saat itu. Kemudian pada tahun 1993 pesawat ini dioperasikan oleh maskapai Merpati Airlines. Namun di tahun yang sama pesawat yang terbang dari bandara Adisucipto - Yogyakarta (JOG) mengalami kecelakaan di bandara tujuan I Gusti Ngurah Rai - Denpasar (DPS). Hingga akhirnya pada tahun 1998 pesawat ini dijadikan koleksi Museum Transportasi. 

Helikopter SAR

Di Sebelah Pesawat DC 9 terdapat salah satu koleksi yang masih ada di ranah transportasi udara. koleksi ini adalah helikopter milik Badan SAR Nasional (BASARNAS). Sayang saat melihat sekitar helikopter tidak terdapat informasi yang jelas, sehingga yang dapat pengunjung ketahui hanyalah koleksi tersebut adalah helikopter dengan warna dan logo Basarnas di body helikopter.

Kereta Wisata

Tepat disamping lokasi transportasi udara di pajang, terlihat rel kereta api yang keluar dari sebuah terowongan. Terowongan tersebut adalah Terowongan Ijo dan rel kereta api tersebut adalah rel kereta api yang mengelilingi area Taman Mini Indonesia Indah.  Ketika saya sedang mengambil gambar rel dan terowongan tersebut, melintas Kereta Wisata yang baru saja dibicarakan. Livery kereta tersebut sekilas mirip dengan kereta wisata yang beroperasi di Museum ambarawa. Kereta tersebut ditarik oleh lokomtif C1912. Namun saya kurang tau apakah ini lokomotif C1912 yang asli atau bukan, karena walaupun serupa tapi berbeda dengan lokomotif C1912 yang saya tahu, karena terlihat lebih datar dan minim lekukan khas lokomotif di jaman tersebut.

Museum Transportasi

Oke setelah puas melihat koleksi yang disajikan di halaman depan Museum Transportasi saya kembali bergerak lebih ke dalam, ke bangunan utama Museum Transportasi TMII. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Untuk cerita selanjutnya dapat anda baca di bagian selanjutnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Kebutuhan Sekunder yang Menjadi Kebutuhan Primer

Masalah Utama dunia Pendidikan di Indonesia

Etika Dalam menggunakan Internet (Netiket)