Napak Tilas Transportasi Indonesia [Part 6]


Oke, setelah di part sebelumnya kita sudah melihat koleksi Bus Klasik yang ada di Museum Transportasi serta bonus 1 Perahu Tradisional dari Papua, kali ini kita akan melihat jenis transportasi yang yang koleksi nya menjadi yang terbanyak disini. Salah satu koleksi nya sudah kita lihat di part 2 atau di halaman depan Museum Transportasi, ya Lokomotif. Jika kalian kira lokomotif yang ada di Museum Transportasi ini sudah kita lihat semua, ternyata di bagian belakang lebih banyak lagi. Bisa dibilang merupakan salah satu surga lokomotif tua di Indonesia.

Lokomotif B2301

Sebelum kita menuju 'garasi' atau depo lokomotif tua, di sudut lain Museum Transportasi terdapat 1 lokomotif yang dipajang 'sendirian' bersama dengan sebuah kereta, sepertinya kereta makan. Namun saat itu saya melihat kapasitas baterai smartphone saya yang sudah semakin menipis, jadi saya terburu-buru, sehingga hanya fokus untuk mengambil dokumentasi lokomotif ini dan tidak mengambil dokumentasi Kereta Makan di belakangnya. Lokomotif ini adalah B2301 yang dibuat oleh pabrikan lokomotif asal Jerman, yaitu Henschel. Pada tahun 1900, Maskapai Kereta Api yang beroperasi di Kediri, Kediri Stroomtram Maatshcappij (KSM) mendatangkan 1 unit lokomotif ini. Lokomotif ini kemudian dioperasikan di jalur  Jombang - Pare - Kediri untuk mememuhi pengangkutan penumpang dan hasil perkebunan. 

Setelah melihat lokomotif B2301, saya bergegas menuju titik selanjutnya yaitu depo lokomotif tua. Sebelum sampai ditujuan saya tergelitik melihat benda satu ini, apakah transportasi ini termasuk koleksi dari Museum Transportasi? Termasuk ke dalam golongan transportasi, ya. Sudah berusia cukup tua, iya juga. Bahkan kondisi nya lebih parah daripada Bus Klasik yang tadi kita lihat. Jadi apakah benda berikut ini bisa dimasukan sebagai koleksi Museum Transportasi? 

Salah satu koleksi Museum Transportasi?

Sebelum tiba di garasi lokomotif, terdapat salah satu tempat yang menarik perhatian saya. Disana juga terdapat 3 lokomotif yang dirangkaikan bersama. Tempat ini berbentuk lingkaran besar, terdapat cekungan seperti mangkok dan memiliki atap. Tempat ini adalah Turntable, Meja Pemutar atau Pemutar Rel. Turntable ini digunakan untuk mengganti arah kepala Lokomotif ke arah yang berlawanan (180 derajat) atau bisa juga secara 90 derajat, tergantung arah tujuan. Biasanya Turntable ini berada di ujung rel, stasiun atau bisa juga di persimpangan rel.

Turntable

Seperti yang sudah diinformasikan tadi, diatas turntable ini terdapat 3 lokomotif yang terparkir. Lokomotif tersebut adalah B5004, B5212 dan D1505. Pertama ada lokomotif B5004. Lokomotif ini dibuat oleh perusahaan lokomotif asal Kota Manchester, Inggris yaitu Sharp Stewart. Lokomotif ini dibuat pada tahun 1880 dan mulai berdinas dari tahun 1881 sampai 1952. Lokomotif berbahan bakar kayu ini beroperasi di lintas Madiun - Ponorogo  - Slakung, Jawa Timur yang digunkanan untuk memenuhi kebutuhan pengankutan penumpang dan gula pasir. Lokomotif yang memiliki berat 18,65 ton ini dapat dipacu hingga kecepatan 60 km/jam.

Lokomotif B 5004

Di belakang lokomotif B 5004, terdapat Lokomotif D 5212. Lokomotif D 5212 merupakan lokomotif yang dibuat oleh perusahaan lokomotif Hartmann di Chemnizt, Jerman. Lokomotif yang dibuat tahun 1908 ini digunakan di Daerah Operasi Yogyakarta dari tahun 1909 sampai 1969. Lokomotif yang memiliki kecepatan maksimal 45 km/jam ini digunakan untu mengangkut penumpang dan hasil komoditas gula. 

Lokomotif D 5212

Terakhir dibelakang Lokomotif D 5212 terdapat lokomotif D1505. Lokomotif ini dibuat oleh perusahaan lokomotif asal Hannover, Jerman yaitu Hanomag. Lokomotif ini didatangkan oleh perusahaan kereta Api swasta Semarang Joeana Stroomtram Maatschapij (SJS) pada tahun 1983. Lokomotif ini digunakan untuk mengangkut berbagai komoditas seperti beras dan gula menuju pelabuhan semarang. Kemudian tahun 1974 lokomotif ini dialihkan untuk mengangkut kereta penumpang di jalur Tegal - Prupuk seiring dengan penutupan SJS yang kalah saing dengan moda transportasi lain. 

Lokomotif B5004

Karena tulisan di halaman ini sudah cukup panjang, cerita mengenai koleksi lokomotif yang ada di Muesum Transportasi kita sudahi sampai disini. Untuk kelanjutan cerita nya dapat dilihat di part atau halaman selanjutnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Kebutuhan Sekunder yang Menjadi Kebutuhan Primer

Masalah Utama dunia Pendidikan di Indonesia

Etika Dalam menggunakan Internet (Netiket)