Napak Tilas Transportasi Indonesia [Part 5]


Kembali ke bagian luar gedung utama, kali ini kita disambut oleh raksasa penguasa jalanan ibukota pada masanya, yaitu Bus Kota Tingkat. Bus yang juga dikenal Bus Double Decker ini didatangkan langsung dari Leyland Atlantean, Inggris pada tahun 1968. Seperti di negara asalnya, Bus Double Decker ini memiliki warna merah dikombinasikan dengan warna kuning di garis striping dan gril depannya. 

Tampak Belakang Bus Double Decker Leyland

Di Indonesia, Bus ini dioperasikan oleh Perum PPD (Pengangkutan Penumpang Djakarta) untuk rute no.14 Blok M - Salemba - Senen dari tahun 1968 - 1982. Bus berbahan bakar solar ini mampu mengangkut hingga 72 penumpang atau 2 kali kapasitas dari bus kota pada masa itu. Selain Jakarta, Bus Double Decker ini juga dioperasikan di kota besar lain, seperti Surabaya, Semarang, Solo dan Ujungpandang (sekarang : Makassar).

Bus Kota DAMRI

Tepat disebelah Bus Double Decker tadi, terparkir Bus Kota berwarna putih dengan kombinasi garis warna biru. Bus tersebut milik Perum DAMRI yang dioperasikan di Kota Bandung. Bus ini diproduksi oleh TATA, salah satu perusahaan pembuat kendaraan di India pada tahun 1977. Di Bandung, bus yang berbahan bakar solar ini dijalankan di rute Cicaheum - Cibereum dan dioperasikan hingga tahun 90an. Selain di Bandung, bus TATA ini juga beroperasi di kota-kota besar lain seperti Surabaya dan Semarang.

Mercedes-Benz O 302

Masih sama, diseberang 2 koleksi Bus Klasik tadi, terdapat 1 Bus lagi. Bus Tersebut berwarna biru tua yang memiliki striping warna kuning. Di body bus tersebut terdapat logo PPD dengan tulisan Tourist Bus. Kemungkinan Bus ini dulu nya adalah Bus PPD divisi pariwisata. Berbeda dengan bus sebelumnya yang dibuat oleh TATA, bus ini diproduksi oleh salah satu brand besar kendaraan Eropa, asal Jerman yaitu Mercedes-Benz. Bus yang memiliki kode mesin O 302 tersebut dibuat pada tahun 1989 dan dioperasikan sebagai Bus Wisata yang beroperasi di Jakarta melayani turis domestik maupun mancanegara. Sayang nya dari semua koleksi Bus Klasik tersebut dalam kondisi yang agak memprihatinkan, seperti cat yang memudar hingga body bus yang mulai keropos. Semoga kedepannya koleksi Bus Klasik tersebut mendapatkan perhatian dengan merestorasi Bentuk Bus tersebut agar terlihat lebih terawat dan memperpanjang umur koleksi tersebut. 

Perahu Tradisional asal Papua

Di area tempat Bus Klasik tadi dipajang, terdapat 1 koleksi transportasi yang membuat saya bertanya-tanya. Kenapa koleksi ini dipajang di Area Bus ini, karena agak tidak nyambung dengan tema transportasi darat yang dipajang di sini. Koleksi tersebut adalah Perahu Tradisional. Perahu yang berbahan kayu tersebut tidak memiliki keterangan informasi yang detail. Kapan dibuat, fungsi/tujuan serta bahan pembuatnya. Disana hanya tertulis Waifuku Marar Demta - Jayapura. Dari nama nya kemungkinan perahu ini adalah perahu tradisional yang berasal dari suku-suku di wilayan Indonesia Timur, khusus nya Papua. Saya coba cari di mesin pencari Google, tidak terdapat informasi lebih detail mengenaik perahu tradisional ini. 

Salah satu sudut Museum Transportasi

Oke demikian cerita dari salah satu sudut Museum Transportasi kali ini, masih ada 1 area lagi yang memiliki koleksi transportasi klasik yang sangat menarik. Bisa dibilang untuk jenis transportasi ini jika dibandingkan dengan jenis koleksi lain merupakan jenis koleksi paling banyak. Untuk cerita lebih lengkapnya berlanjut di part selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Kebutuhan Sekunder yang Menjadi Kebutuhan Primer

Masalah Utama dunia Pendidikan di Indonesia

Etika Dalam menggunakan Internet (Netiket)